Islam dan Kesehatan Gigi
Kata orang, kesehatan itu mahal. Tetapi, peringatan itu belum banyak berguna, sebab kenyataannya tidak sedikit orang yang mengabaikan kesehatan. Mereka baru menyadari betapa berharga kesehatan ketika jatuh sakit. Penyesalan selalu datang terlambat. Kesehatan sering dikaitkan dengan kebersihan. Maka menjaga kesehatan sedikit banyaknya dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan itu sendiri. Lingkungan yang sehat diraih dengan bersihnya lingkungan. Makanan yang sehat salah satu tandanya adalah bersihnya makanan tersebut. Begitu juga halnya gigi yang sehat, ia hanya dapat diraih dengan membersihkannya secara rutin. Kita sering mengabaikan persoalan kecil. Kita lupa bahwa persoalan besar berawal dari hal yang kecil. Kebakaran misalnya, sering disebabkan oleh api kecil dari lilin. Efeknya bisa menghanguskan ratusan rumah.
Menggosok gigi menjelang tidur di malam hari adalah hal sepele yang sering diabaikan. Tetapi, ketika gigi rusak, makanan paling enak sekalipun bisa kehilangan kenikmatannya. Apapun yang kita makan masuk ke dalam lubang gigi yang rusak, dan itu hanya menghadirkan rasa nyeri di dalamnya. Ketika sakit gigi menyerang, makan tidak enak, tidur tidak nyenyak, bahkan emosi susah dikontrol. Dalam keadaan sakit gigi, sebagian orang marah kalau diajak bicara. Sebagian yang lain bahkan tidak sanggup mendengar kokok ayam. Ia akan mengejar ayam itu sebagai pelampiasan kemarahannya. Padahal itu tidak menyembuhkan rasa nyeri di gigi. Sekalipun zaman sekarang menawarkan ragam merek obat sakit gigi, namun itu bukanlah pilihan yang ideal. Obat memang dapat menyembuhkan sakit untuk jangka pendek, tetapi jika dikonsumsi terus-menerus juga tidak sehat. Obat bisa mengurangi kekebalan tubuh terhadap penyakit itu. Lama-kelamaan, minum obat sakit gigi tidak akan mampu menyembuhkannya lagi. Jadi, obat bukanlah segalanya. Oleh sebab itu, mencegah sakit gigi dengan menjaga kebersihan gigi secara teratur tentu lebih baik daripada mengobatinya. Walaupun terasa berat, ia harus dibudayakan sebisa mungkin. Pekerjaan merawat memang berat, tetapi selalu saja mendatangkan keuntungan yang lebih besar. Ini yang kurang kita sadari.
Pandangan Islam
Menjaga kebersihan gigi merupakan keniscayaan yang tidak dapat ditawa-tawar lagi. Bukan cuma untuk mencegah sakit gigi ataupun bau nafas yang kurang sedap, melainkan lebih dari itu, kebersihan merupakan anjuran agama Islam. Bukankah kita sering mendengar hadis nabi, kebersihan itu sebagian (bukan setengah) dari iman? Menjaga kebersihan mendatangkan pahala bagi yang melakukannya. Sayang, umumnya umat Islam (muslim) khususnya di Aceh sejauh ini belum berpegang pada sumber ajaran agamanya. Banyak orang Aceh yang masih menebar kekotoran di mana-mana. Anjuran buang sampah pada tempatnya belum banyak berpengaruh pada peningkatan kesadaran menjaga kebersihan. Parahnya, rumah-rumah ibadah pun yang sebenarnya digunakan untuk mengabdi pada Tuhan masih jauh dari anjuran Islam. Allah mencintai orang yang bertaubat dan orang yang bersih. Begitu firman Allah dalam Al-Quran. Akan tetapi, mengapa toilet mesjid dan mushalla di Aceh jarang kita temukan bersih. Ini namanya mengangkangi ajaran agama. Tidak ada gunanya berkoar bahwa Aceh negeri syariat selama kebersihan masih menjadi persoalan yang tak kunjung selesai. Terkait kesehatan gigi, Islam jauh-jauh hari sudah menegaskan pentingnya menjaga kebersihan gigi (mulut) yang tertuang dalam hadits dan kitab-kitab karya ulama terdahulu. Membersihkan gigi atau yang dikenal dengan siwak hukumnya sunnah. Para ulama menegaskan siwak sangat disunnahkan pada tiga situasi. Pertama, ketika mulut terasa bau, ketika bangun tidur, dan ketika hendak melaksanakan shalat. Pentingnya kesehatan gigi ditegaskan Rasulullah dalam sebuah hadits,
“Sekiranya aku tidak memberatkan umat, niscayakan kuwajibkan kepada mereka menggosok gigi setiap kali ia berwudhu”.(H.R. Bukhari, Muslim, Ahmad).
Baca juga : Islam dan Kesehatan Gigi.
Posting Komentar